Just another free Blogger theme

Latest courses

3-tag:Courses-65px

Jumat, 07 Februari 2025








Pendahuluan



Di tengah gelapnya sejarah Afrika Selatan, terdapat satu nama yang bersinar terang, yaitu Nelson Mandela. Ia bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan. Kisah hidupnya adalah sebuah epik kepahlawanan yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Dalam narasi ini, kita akan menyelami perjalanan hidup Mandela, dari masa kecilnya hingga perjuangannya melawan apartheid yang mengubah wajah negaranya. Melalui setiap fase kehidupannya, kita akan melihat bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, keberanian, dan ketekunan dapat mengubah arah sejarah.



Masa Kecil dan Pendidikan




Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada tanggal 18 Juli 1918, di desa Mvezo, Provinsi Cape. Ia adalah anak dari kepala suku Thembu, yang memberikan Mandela akses kepada pendidikan yang lebih baik dibandingkan kebanyakan anak-anak Afrika lainnya. Sejak kecil, Mandela sudah diperkenalkan dengan nilai-nilai kepemimpinan dan tanggung jawab. Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Dasar Missionary, di mana ia belajar bahasa Inggris dan dasar-dasar pengetahuan lainnya. Di sekolah ini, ia tidak hanya belajar pelajaran akademis, tetapi juga nilai-nilai moral yang membentuk karakterny






 
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Mandela melanjutkan ke Sekolah Menengah di Healdtown, di mana ia mulai terlibat dalam kegiatan politik. Di sinilah ia menyadari bahwa ketidakadilan rasial adalah masalah yang mendalam dan sistemik. Mandela aktif dalam organisasi siswa dan mulai berbicara tentang masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat kulit hitam. Dalam perjuangannya untuk memahami lebih jauh tentang hak-hak asasi manusia, Mandela melanjutkan pendidikan ke Universitas Fort Hare, di mana ia bergabung dengan gerakan mahasiswa yang menentang kebijakan apartheid. Di universitas ini, ia berinteraksi dengan berbagai pemikir dan aktivis, yang semakin memperkuat keyakinannya untuk berjuang demi keadilan.



Awal Perjuangan




Setelah menyelesaikan studinya, Mandela pindah ke Johannesburg untuk bekerja sebagai pengacara. Di sana, ia bergabung dengan African National Congress (ANC), sebuah organisasi yang berjuang untuk hak-hak rakyat kulit hitam di Afrika Selatan. Pada tahun 1944, Mandela bersama rekan-rekannya mendirikan Liga Pemuda ANC, yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak generasi muda kulit hitam. Liga ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi mereka dan menentang penindasan yang dialami oleh masyarakat kulit hitam.



Perjuangan Mandela semakin intensif ketika pemerintah Afrika Selatan mengesahkan Undang-Undang Apartheid pada tahun 1948. Kebijakan ini secara resmi memisahkan masyarakat berdasarkan ras, memberikan hak-hak istimewa kepada orang kulit putih dan menindas orang kulit hitam. Mandela dan rekan-rekannya merespons dengan mengorganisir protes, demonstrasi, dan kampanye untuk menuntut kesetaraan. Salah satu contoh nyata dari perlawanan ini adalah aksi mogok massal yang diadakan pada tahun 1952, di mana ribuan orang kulit hitam menolak untuk mematuhi undang-undang yang diskriminatif.



Taktik Perlawanan



Pada tahun 1952, Mandela terlibat dalam Kampanye Tantangan, yang bertujuan untuk melawan undang-undang apartheid secara damai. Dalam kampanye ini, para aktivis mengorganisir tindakan sipil yang tidak patuh terhadap undang-undang yang tidak adil. Namun, pemerintah merespons dengan keras, menangkap dan mengadili banyak pemimpin ANC. Mandela sendiri ditangkap pada tahun 1961 dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun karena terlibat dalam tindakan sabotase. Penangkapan ini menjadi titik balik dalam perjuangan Mandela, di mana ia mulai menyadari bahwa perjuangan tidak hanya memerlukan keberanian, tetapi juga kecerdasan politik.



Selama di penjara, Mandela tidak hanya merenungkan nasib bangsanya, tetapi juga merumuskan strategi untuk melawan apartheid. Ia menyadari bahwa perjuangan tidak hanya memerlukan keberanian, tetapi juga kecerdasan politik. Dalam penjara, ia terus belajar dan berdiskusi dengan sesama tahanan, memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan kebebasan. Mandela menggunakan waktu di penjara untuk membaca berbagai buku, mulai dari karya-karya klasik hingga tulisan-tulisan tentang politik dan ekonomi. Ia juga menjalin hubungan dengan para tahanan lainnya, yang berasal dari berbagai latar belakang, dan bersama-sama mereka membahas cara-cara untuk memperkuat gerakan anti-apartheid.



Penangkapan dan Penahanan



Pada tahun 1962, Mandela ditangkap kembali dan dijatuhi hukuman seumur hidup dalam proses pengadilan Rivonia. Selama 27 tahun, ia mendekam di Pulau Robben, sebuah penjara yang terkenal kejam. Di pulau ini, kondisi kehidupan sangat sulit, dengan tahanan yang dipaksa bekerja di tambang batu. Meskipun terpisah dari dunia luar, semangat Mandela tidak pernah padam. Ia menjadi simbol harapan bagi rakyat Afrika Selatan dan menjadi pusat perhatian dunia. Dalam penjara, ia tidak hanya menjadi tahanan politik, tetapi juga seorang pemimpin yang menginspirasi banyak orang dengan keberaniannya.



Di dalam penjara, Mandela menerima surat dan dukungan dari berbagai penjuru dunia. Ia menjadi ikon perjuangan melawan apartheid, dan banyak orang yang berjuang untuk kebebasan Mandela. Dukungan internasional semakin menguatkan gerakan anti-apartheid, dengan banyak negara yang memberlakukan sanksi terhadap Afrika Selatan. Selain itu, gerakan pembebasan di seluruh dunia mulai mengangkat suara mereka untuk mendukung kebebasan Mandela dan menuntut diakhirinya apartheid. Dalam konteks ini, Mandela tidak hanya berjuang untuk kebebasannya sendiri, tetapi juga untuk kebebasan seluruh rakyat Afrika Selatan.



Kebangkitan dan Kebebasan



Setelah bertahun-tahun penindasan, dunia mulai menekan pemerintah Afrika Selatan untuk mengakhiri apartheid. Pada tahun 1990, setelah tekanan internasional yang besar dan protes di dalam negeri, Presiden F.W. de Klerk mengumumkan pembebasan Nelson Mandela. Pada tanggal 11 Februari 1990, Mandela melangkah keluar dari penjara, disambut oleh ribuan pendukung yang merayakan kebebasan. Momen ini bukan hanya menjadi simbol kemenangan bagi Mandela, tetapi juga bagi seluruh rakyat Afrika Selatan yang telah berjuang melawan ketidakadilan. 


 

Kebebasan Mandela bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga simbol harapan bagi seluruh bangsa. Ia segera mengambil peran aktif dalam proses negosiasi untuk mengakhiri apartheid dan membangun masyarakat yang demokratis. Mandela menekankan pentingnya rekonsiliasi dan persatuan, menyadari bahwa masa depan Afrika Selatan tergantung pada kemampuan rakyatnya untuk berdamai. Dalam upaya ini, ia bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin politik lainnya, termasuk F.W. de Klerk, untuk merumuskan konstitusi baru yang menjamin hak-hak semua warga negara, tanpa memandang ras.



Pemilihan Umum dan Kepemimpinan




Pada tahun 1994, Afrika Selatan mengadakan pemilihan umum pertama yang bebas dan adil, di mana Mandela terpilih sebagai Presiden. Ia menjadi presiden kulit hitam pertama di negara itu, menandai akhir dari era apartheid. Kepemimpinannya ditandai dengan upaya untuk membangun masyarakat yang inklusif, di mana semua ras dan etnis memiliki tempat yang sama. Dalam masa kepemimpinannya, Mandela berfokus pada rekonsiliasi nasional, berusaha untuk menyatukan masyarakat yang terpecah oleh tahun-tahun penindasan.



Mandela menginisiasi program-program untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat kulit hitam, termasuk pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Ia juga mendirikan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menyelesaikan luka-luka masa lalu dan mendorong masyarakat untuk bergerak maju. Komisi ini berfungsi sebagai platform untuk mendengarkan kesaksian dari korban dan pelaku kekerasan selama masa apartheid, dengan tujuan untuk mempromosikan pemahaman dan pengampunan. Dalam proses ini, Mandela menunjukkan bahwa meskipun masa lalu penuh dengan penderitaan, masa depan dapat dibangun dengan saling pengertian dan kerja sama.


Warisan dan Inspirasi




Setelah menjabat sebagai presiden, Mandela pensiun dari politik tetapi tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia menjadi suara bagi mereka yang tertindas di seluruh dunia, berbicara tentang pentingnya hak asasi manusia dan keadilan sosial. Warisan Mandela tidak hanya terletak pada pencapaian politiknya, tetapi juga pada nilai-nilai yang ia tanamkan: keberanian, pengorbanan, dan cinta untuk kemanusiaan. Ia menginspirasi banyak orang untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan, tidak hanya di Afrika Selatan tetapi juga di seluruh dunia.



Kisah kepahlawanan Nelson Mandela melawan apartheid adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan tidak pernah mudah, tetapi dengan tekad dan keberanian, perubahan yang positif adalah mungkin. Ia telah membuktikan bahwa satu orang dapat membuat perbedaan, dan bahwa harapan dapat mengalahkan penindasan. Melalui ketekunan dan keyakinannya, Mandela telah menunjukkan kepada dunia bahwa cinta dan pengertian dapat mengubah bahkan situasi yang paling sulit sekalipun.



Penutup



Kisah hidup Nelson Mandela adalah sebuah epik yang mengajarkan kita tentang arti sejati dari kepahlawanan. Dalam menghadapi tantangan terbesar, ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh rakyat Afrika Selatan. Melalui keberanian dan pengorbanannya, Mandela telah mengubah dunia dan memberikan inspirasi bagi generasi mendatang. Sebagai seorang pemimpin, ia menunjukkan bahwa cinta dan pengertian dapat mengalahkan kebencian dan perpecahan. Dengan demikian, warisan Mandela akan terus hidup dalam hati dan pikiran setiap orang yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan di seluruh dunia. Kisahnya mengingatkan kita bahwa meskipun jalan menuju keadilan sering kali penuh rintangan, dengan tekad dan persatuan, kita dapat mencapai tujuan yang lebih tinggi dan menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua.






Referensi



Mandela, Nelson. "Long Walk to Freedom: The Autobiography of Nelson Mandela

Benson, Susan. "Nelson Mandela: The Man Who Changed the World

Hoffman, Bruce. "The Politics of Apartheid: South Africa's Struggle for Freedom

Sparks, Allister. "The Mind of South Africa: The Story of the Rise and Fall of Apartheid

Sampson, Anthony. "Mandela: The Authorized Biography

Benson, L. "The Legacy of Nelson Mandela: The Impact of His Leadership

Hoffman, Bruce. "The Politics of Nelson Mandela: A Study of His Leadership Style

Wolpe, Harold. "Race, Class, and the Struggle for Democracy in South Africa




 



Di tengah belantara Afrika yang luas, di mana matahari terbenam dengan warna oranye keemasan dan bintang-bintang mulai bersinar, terdapat sebuah kerajaan yang megah, dipimpin oleh seekor singa bernama Simba. Simba bukanlah singa biasa; ia adalah raja hutan yang terlahir dari garis keturunan yang mulia. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan ajaran dan nilai-nilai yang tinggi oleh ayahnya, Mufasa, raja sebelumnya yang bijaksana dan kuat. Dalam setiap detil kehidupannya, terdapat pelajaran berharga yang membentuk karakternya dan menentukan jalan hidupnya.



Simba tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan petualangan. Ia memiliki sahabat yang setia, Nala, seekor singa betina yang cerdas dan berani. Bersama-sama, mereka menjelajahi setiap sudut kerajaan, dari padang rumput yang luas hingga tebing-tebing curam tempat mereka bisa melihat seluruh tanah mereka. Pada saat-saat ini, Simba dan Nala tidak hanya menikmati kebebasan dan keindahan alam, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Mereka menyaksikan bagaimana setiap makhluk, besar maupun kecil, memiliki perannya masing-masing dalam menjaga kehidupan di hutan.








Namun, di balik kebahagiaan itu, ada bayang-bayang gelap yang mengintai. Scar, paman Simba, adalah sosok yang penuh kebencian dan ambisi. Ia menginginkan tahta dan tidak segan-segan untuk melakukan apa pun untuk merebutnya. Scar bukan hanya sekadar antagonis; ia adalah gambaran dari ambisi yang tidak terkendali dan ketidakpuasan yang bisa menghancurkan segalanya. Karakter Scar menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat mengubah seseorang menjadi sosok yang kejam dan manipulatif, yang siap menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya.



Suatu hari, saat Simba dan Nala sedang bermain di tepi air terjun, mereka mendengar suara gemuruh yang datang dari jauh. Suara itu semakin mendekat, dan mereka melihat sekawanan hyena yang dipimpin oleh Scar. Simba, yang masih muda dan berani, tidak merasa takut. Ia melawan dengan keberanian, menunjukkan semangat juangnya untuk melindungi sahabat dan kerajaannya. Namun, Scar memiliki rencana jahat yang lebih besar. Ia menghasut Simba untuk mendekati tempat berbahaya, tempat yang seharusnya dijauhi oleh semua hewan. Di sinilah tragedi dimulai, dan momen ini menjadi titik balik dalam kehidupan Simba.





Scar, dengan tipu daya dan kebohongan, membuat Simba merasa bersalah atas kematian ayahnya, Mufasa. Dalam keadaan bingung dan ketakutan, Simba melarikan diri dari kerajaan, meninggalkan semua yang dicintainya. Keputusan ini mencerminkan bagaimana rasa bersalah dan ketidakpastian dapat mengubah arah hidup seseorang. Simba bersembunyi di hutan yang jauh, di mana ia bertemu dengan Timon dan Pumbaa, dua makhluk yang mengajarinya filosofi hidup yang berbeda: "Hakuna Matata." Hidup tanpa masalah, jauh dari tanggung jawab dan kesedihan, tampaknya menjadi pelarian yang sempurna bagi Simba, tetapi pada saat yang sama, ia harus menghadapi kenyataan bahwa melupakan masa lalu bukanlah solusi.



Bertahun-tahun berlalu, Simba tumbuh menjadi singa yang kuat dan tampan, namun hatinya selalu diliputi rasa bersalah dan kehilangan. Kehidupan yang dijalaninya bersama Timon dan Pumbaa memberikan pelajaran tentang kebebasan dan kesenangan, tetapi juga mengajarkan bahwa menghindari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu sendiri. Suatu ketika, Nala, yang telah mencari Simba, menemukan tempat persembunyiannya. Ia menceritakan keadaan kerajaan yang semakin memburuk di bawah pemerintahan Scar yang kejam. Hati Simba bergejolak mendengar cerita itu. Ia tahu bahwa ia tidak bisa melarikan diri selamanya. Tanggung jawabnya sebagai raja harus diambil kembali.



Dengan tekad yang baru, Simba kembali ke kerajaan. Ia merasakan beban masa lalu yang berat, namun ia juga merasakan dukungan dari Nala dan sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan Rafiki, si mandrill bijak yang membantunya menemukan kekuatan dalam dirinya. Rafiki mengingatkan Simba akan warisan yang ditinggalkan ayahnya dan pentingnya menjalani takdirnya sebagai raja. Pertemuan ini bukan hanya sekadar pertemuan antara dua karakter; ini adalah simbol dari pencarian jati diri dan pengakuan akan tanggung jawab yang harus dihadapi.



Ketika Simba tiba di kerajaan, ia melihat betapa menderitanya rakyatnya di bawah kekuasaan Scar. Tanah yang subur kini menjadi tandus, dan suara kegembiraan yang dulunya memenuhi hutan kini sirna. Simba tahu bahwa ia harus berhadapan dengan Scar dan mengambil kembali tahtanya. Dalam pertempuran yang epik, Simba dan Scar berhadapan. Scar, yang penuh tipu daya, mencoba menggoda Simba dengan kata-kata manis, namun Simba telah belajar dari kesalahannya. Dengan keberanian dan kekuatan yang baru ditemukan, Simba berhasil mengalahkan Scar. Kemenangan ini bukan hanya tentang mengalahkan musuh, tetapi juga tentang mengatasi ketakutan dan rasa bersalah yang telah membelenggu Simba selama ini.








Namun, saat Scar terdesak, ia mencoba untuk melarikan diri dan menghasut hyena untuk menyerang Simba. Dalam momen yang menegangkan, Simba berdiri tegak, menunjukkan kepada semua hewan bahwa ia adalah pemimpin yang layak. Dengan bantuan Nala, Timon, Pumbaa, dan rakyatnya, mereka bersatu untuk melawan Scar dan hyena. Akhirnya, Scar terjebak dan menghadapi akibat dari semua perbuatannya. Momen ini menjadi simbol dari keadilan dan konsekuensi dari tindakan yang salah.



Setelah kemenangan itu, Simba kembali ke tahtanya. Ia mengambil alih sebagai raja yang bijaksana dan adil, berjanji untuk menjaga kerajaannya dan semua makhluk yang tinggal di dalamnya. Bersama Nala, ia membangun masa depan yang cerah untuk generasi mendatang, mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan cinta kepada anak-anaknya. Simba tidak hanya belajar dari pengalaman pahitnya, tetapi juga berusaha untuk meneruskan ajaran ayahnya kepada generasi berikutnya, menciptakan siklus pembelajaran yang berkelanjutan. 





Cerita Simba bukan hanya tentang perjalanan seorang raja, tetapi juga tentang penemuan diri, tanggung jawab, dan kekuatan untuk menghadapi masa lalu. Dalam setiap langkahnya, ia mengingat ajaran ayahnya dan selalu berusaha untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Dengan hati yang terbuka dan pikiran yang bijaksana, Simba sang raja hutan melanjutkan perjalanan hidupnya, siap menghadapi tantangan apa pun yang akan datang.



Dan begitulah, di bawah sinar bulan yang bersinar terang, kerajaan hutan kembali hidup dengan suara tawa dan keceriaan, di mana Simba, sang raja hutan, memimpin dengan cinta dan kebijaksanaan, menjaga keseimbangan alam dan menjadikan kerajaan sebagai tempat yang aman bagi semua makhluk. Kisahnya akan dikenang oleh generasi-generasi mendatang, sebagai simbol keberanian dan cinta yang tak tergoyahkan.



Kisah Simba mengajarkan kita bahwa setiap individu memiliki perjalanan unik yang harus dilalui. Dari masa kecil yang penuh petualangan hingga menghadapi tantangan yang berat, setiap langkah membawa pelajaran berharga. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada pilihan yang sulit, dan bagaimana kita merespons terhadap tantangan tersebut yang akan menentukan siapa kita sebenarnya. Simba, dengan segala kesedihan dan kebahagiaannya, adalah cerminan dari perjalanan banyak orang yang berusaha menemukan jati diri mereka di tengah berbagai rintangan.



Akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki masa lalu, kesalahan, dan ketakutan. Namun, dengan keberanian, dukungan dari orang-orang terkasih, dan kesadaran akan tanggung jawab, kita dapat mengatasi masa lalu dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Simba, sang raja hutan, bukan hanya sekadar karakter fiksi; ia adalah simbol dari harapan, kekuatan, dan cinta yang dapat mengubah dunia.





















Referensi




The Lion King: A Complete Illustrated History oleh Brian J. Robb

The Art of The Lion King oleh The Walt Disney Company

Disney's The Lion King: The Story of the Movie in Comics oleh Disney Press

The Lion King: A New Generation oleh Disney Publishing Worldwide

African Folktales: Traditional Stories of the African People oleh Roger D.

The Circle of Life: The Lion King and the Importance of Family oleh Various Authors danTim Rice




Kamis, 06 Februari 2025


 






Pada Selasa, 19 April 2021, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Utara mengumpulkan seluruh guru PNS beserta, Pokjawas, Kepala Kasubag dan Seksi Pendis untuk melakukan musyawarah. Musyawarah ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Kabupaten Lombok Utara merupakan satu-satunya kabupaten di NTB yang belum memiliki Madrasah Negeri sebagai satuan kerja yang menaungi guru PNS di bawah Kementerian Agama. Dari hasil kesepakatan bersama, muncul keinginan untuk membentuk Panitia Percepatan Pembangunan Madrasah Negeri Lombok Utara. Perlu diketahui bahwa empat tahun sebelumnya, panitia serupa telah dibentuk, namun tidak membuahkan hasil.













Pemerintah Daerah telah lama menghibahkan tanah untuk pembangunan madrasah, tetapi hingga saat itu belum ada pembangunan yang dilakukan. Bahkan, muncul kabar bahwa tanah hibah tersebut akan diambil kembali jika tidak segera dimanfaatkan. Oleh karena itu, hasil musyawarah pada 19 April 2021 menetapkan terbentuknya Panitia Percepatan Pembangunan Madrasah Negeri.

Pada Senin, 26 April 2021, Kepala Kemenag Lombok Utara secara resmi mengukuhkan panitia dan langsung meninjau lokasi tanah hibah dari Pemerintah Daerah, yang diberikan pada masa pemerintahan Dr. TGH Najmul Ahyar. Panitia pun bergerak cepat dengan melakukan musyawarah rutin dan sepakat untuk mulai menerima siswa baru pada tahun ajaran 2021/2022, meskipun belum memiliki bangunan dan fasilitas ruang kelas.















Dengan tekad dan semangat bersama, panitia memutuskan untuk membangun gedung sementara secara swadaya. Sebagai dasar legalitas penerimaan siswa baru, panitia juga berupaya menjalin komunikasi dengan Yayasan Al Ishlahul Ittihad Sigar Penjalin untuk meminjam izin operasional madrasah MTs yang sudah lama tidak aktif



Pada Minggu, 23 Mei 2021, panitia mulai mengumpulkan bahan bangunan melalui sistem gotong royong, sumbangan sukarela, dan komunikasi dengan berbagai pihak untuk membantu mendirikan ruang belajar sementara. Pada 1 Juni 2021, panitia bergerak cepat membangun pondasi gedung dengan bahan seadanya. Tanpa mengenal lelah, dalam waktu satu bulan, dua ruang kelas berhasil didirikan di atas tanah hibah pemerintah di tengah area persawahan.

Setelah dua ruang kelas berdiri, para pejuang madrasah mulai turun ke pelosok pegunungan untuk mencari anak-anak kurang mampu agar dapat bersekolah di MTs Al Ishlahul Ittihad Persiapan Negeri Lombok Utara. Setelah satu bulan bergerilya, akhirnya terkumpul lima orang siswa. Biaya seragam, pemondokan, dan transportasi siswa ditanggung secara swadaya oleh para guru PNS. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dimulai dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 7 orang siswa.













Pada tahun ajaran kedua (2022), jumlah siswa bertambah empat orang sehingga total menjadi sebelas siswa. Pada tahun ajaran ketiga (2023), madrasah hanya mendapatkan satu siswa akibat kurangnya perhatian dari Kemenag. Meskipun demikian, pada tahun 2024, madrasah berhasil menamatkan tujuh siswa dengan nama MTs Al Ishlahul Ittihad.



Dalam proses pengajuan proposal penegerian, panitia menghadapi berbagai tantangan, baik dari internal maupun eksternal. Menghadapi kendala yang ada, panitia akhirnya bergerak langsung menemui Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi NTB, Dr. Zaidi Abdad, untuk menyampaikan secara langsung permasalahan dan keterbatasan yang dihadapi dalam proses pengajuan madrasah negeri di Lombok Utara.






















Berkat upaya yang gigih, akhirnya pada tahun 2024, disetujui pendirian tiga lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lombok Utara. Kemenag kemudian mendorong panitia untuk segera melaksanakan penerimaan siswa baru jenjang MIN, MTsN, dan MAN untuk tahun ajaran 2024/2025.










Berbagai upaya dilakukan untuk mensosialisasikan madrasah negeri. Hasilnya, MTsN berhasil mendapatkan delapan siswa, MAN mendapatkan enam siswa, sementara MIN belum mendapatkan siswa sama sekali. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah tuntutan masyarakat agar segera dibangun gedung sekolah yang memadai.

Perjuangan mendirikan madrasah negeri di Lombok Utara telah melalui jalan panjang yang penuh tantangan. Namun, dengan semangat dan kerja keras, kini harapan untuk memiliki madrasah negeri yang kokoh dan mampu melayani pendidikan bagi masyarakat Lombok Utara semakin mendekati kenyataan.